Berdasarkan pada pengalaman yang saya alami 3 bulan terakhir ini membuat saya ingin mengungkapkannya lewat sebuah tulisan. Saya baru dinyatakan lulus dari SMA tahun ini. Setelah Ujian Nasional dan Ujian Sekolah dan juga Ujian Praktek selesai, saya bekerja sebagai Tutor Komputer di sebuah lembaga dekat sekolah saya. Saya dapat bekerja di sana karena saya kenal dengan manager lembaga tersebut, dan pada saat itu memang lembaga tersebut sedang membutuhkan tenaga kerja. Semua itu juga atas bantuan dari guru saya di SMA. Saya tertarik untuk menerima tawaran tersebut, saya pikir sambil nunggu testing kuliah ga ada salahnya saya mencoba.
Selama menjadi staf pengajar sekaligus menangani sekretariat, saya juga sudah mencoba mendirikan sebuah perusahaan micro, gabung modal dengan sahabat saya. Saat itu berjuta pengalaman dapat saya petik dari berbagai peristiwa yang terjadi selama mengajar, saya merasakan betapa besar tantangan menjadi seorang guru itu, sekarang saya mengerti kenapa guru lebih menyukai anak yang pandai, apalagi yang rajin dan ulet. Daripada yang malas dan bandel. Hehehe ^o^ (Jadi inget waktu SMA).
Kelemahan siswa dalam memahami sebuah pelajaran, khususnya ilmu komputer, berdasarkan pengalaman saya, semua itu didasari oleh rasa penasaran yang kurang, tidak berani mencoba, takut salah, tidak banyak bertanya, malas mempelajarinya, dan mungkin belum merasakan betapa pentingnya ilmu yang satu ini. Dan satu hal lagi, mungkin memang mereka belum merasakan butuh ilmu yang satu ini. Pada saat akan bekerja, dan di tempat kerjanya itu harus bisa mengoperasikan komputer, Nah, baru mereka bergegas kursus, kenapa tidak saat SMA?? Sayangnya mereka belum begitu cepat menyadari bahwa globalisasi sudah tak dapat dielakan lagi.
Kadang saya heran sewaktu masih di SMA, dulu teman-teman merasa risih jika jam pelajaran komputer telah tiba. Setiap orang mungkin berbeda-beda akan alasannya, kemungkinan besar karena sifat malasnya itu sendiri, faktor rasa tidak suka kepada guru pengajarnya, tidak suka dengan apa yang dipelajarinya, dan mungkin malas dalam mempelajari teknologi, wajar Indonesia terus ketinggalan jika anak-anak muda-nya tidak melek di bidang ICT (yang tua juga yach, he….). Nah, bagi anda yang seperti itu, satu hal yang anda harus ketahui, apabila anda belajar sesuatu, apapun itu, tips pertama dari saya “sukai gurunya”, yang kedua “gemari pelajarannya”, yang ketiga “tentukan arah belajar anda”, keempat “rajinlah bertanya apabila tidak mengerti”, kelima “jangan takut mencoba”, keenam “jangan menyerah ketika mendapat kesulitan dalam mempelajarinya”. Ketujuh “perhatikan dan fokuslah saat guru menerangkan”, kedelapan “jangan kenal putus asa”, Bahkan apabila mungkin, “Berprestasilah dalam bidang tersebut”. Semoga sukses !!!
Sesungguhnya desah nafas telah ditentukan Jumlah detik telah ditetapkan Hari demi hari sisa nafas semakin berkurang Demi Allah, semakin hari semakin aku dekat dengan perpisahan Ajal pun akan semakin mendekat Hisab akan menjadi nyata untuk menguras air mata
Sadarkah…….. ?? Usia yang merupakan amanah dari yang kuasa
Sadarkah…..?? Bahwa kau akan dimintai Sebuah pertanggung jawaban suatu saat nanti
Sadarkah…. ?? Aku yang menjalani hidup ini tanpa makna Sadarkah…. ?? Usia yang semakin senja
Sadarkah…. ?? Segala amal dan perbuatan Sadarkah…. ?? Atas mata yang terbutakan
Pagi – pagi buta HP-ku menjerit tiada henti, bahkan saat aku masih terlelap dalam tidur. Pesan pertama yang kuterima tepat pada pukul 00:01 tengah malam. Pesan tersebut adalah dari adik kelasku di SMA. Dia masih kelas X, orangnya ramah dan tak banyak tingkah. Pesan selanjutnya adalah dari teman – teman dan sahabat – sahabatku. Isi pesannya hampir sama. Lantunan doa, semangat, dan canda sekali pun mengguyur Inbox pesan di HP-ku. Pada saat itu, usiaku tepat 18 Tahun. Ach, tak terasa…. Sungguh tak terasa dengan apa yang kulalui selama 18 tahun di muka bumi ini. Warna-warni kehidupan kurasakan selama itu. Berjuta nikmat telah kudapat, berjuta anugerah telah kujamah. Aku pun lupa dengan dunia yang bersifat fana, aku lupa ini hanya panggung sandiwara, aku lupa dengan apa yang dulu kurasa. Kini semua semakin nyata, walau harus berakomodasi, aku tahu, pendakian belum usai, sebuah puncak belum kugapai…. Aku lupa dengan tujuan terakhir dalam hidupku ini. Saat ini aku masih mencari-cari jati diriku sendiri. Siapa aku? Akan jadi apa aku? Sosok yang nista? Atau sebuah bintang? Ach, entahlah…. Tapi, Sadarkah aku? Hanya kelalaian yang kuperbuat selama ini… hanya tindakan-tindakan bodoh yang kulakukan selama ini….. tak ada yang lain, kecuali menyusahkan orang lain….
Pohon, engkau berusaha keras ciptakan tunas-tunas berkualitas Dengan sabar kau arahkan tunas itu agar tumbuh ke arah yang benar menuju masa depan yang berbinar Tetapi ternyata terlalu banyak tunas yang tak punya tujuan Tumbuh mengikuti angin yang membelokkan Batang pohon pun hanya diam, tak berdaya melihat semua yang terjadi Terlalu sulitkah mengarahkan tunas-tunas tersebut sejak dini Atau memang tunas tak tahu diri Dan apakah selamanya akan seperti ini? Lalu apa tujuan engkau pohon ??? Tak adakah cahaya yang dapat menyeragamkan arah tunas-tunas kita? Haruskan selalu diluruskan dengan paksa saat tunas sudah tua Bukankah hukum dalam Biologi sangat tidak membenarkan cara itu Bisa-bisa tunas tua itu patah dan hanya bisu Bisu menghadapi tantangan yang lama menunggu Sampai kapan dilema akan menjadi tema Demi aku…….. Kebenaran didustakan Demi apa ??? Demi apa ? Demi proses yang begitu lama ? Percuma jika tunas tak dapat menjadi cabang atau ranting Kenapa tidak diarahkan selama proses Sudah……… tapi …… Tunas !! Kau yang salah. Aku ?? Yah,,,,,, mungkin munafik, tapi hatiku sungguh tak dapat menerima keadaan ini Semuanya telah jatuhkan air mata keprihatinan Wajarlah . Wajarlah jika ekor yang kita dapat Macan asia tampaknya akan sulit kembali didapat Karena taring itu telah berubah menjadi ekor Kepala kucing bertaring pun belum kita dapat Apalagi macan yang kuat HikSzZz ……… Dunia buku pertiwi Dari belakang menjadi ekor Karena lembaga besar yang betebaran masih gagal meluruskan tunasnya
”BERJUTA KEBAIKAN KITA UKIR, TAK SEORANG PUN MENGINGATNYA, SETITIK KEJELEKAN TERGORESKAN, TAK SEORANG PUN MELUPAKANNYA.”
Pagi–pagi buta aku terbangun dari tidurku….. mataku sedikit–sedikit membuka, langit– langit kamar masih terlihat berbayang–bayang. Otakku mulai bekerja dalam keadaan sadar, mulai mengingat, dan berfikir tentang sesuatu.
Sejuta tantangan merentang kedepan, aku tak pernah tahu apa yang akan terjadi pada diriku hingga aku tertidur lagi nanti. Berbagai peristiwa, seperti bencana, rasa bahagia, sedih, bahkan mati sekalipun aku tak pernah tahu, mungkinkah hari ini menghampiri? esok? atau lima menit yang akan datang? entahlah…..
Kadang pula aku tak menyadari nikmat yang tuhan anugerahkan, aku pun tak pernah bisa menghitung seberapa banyak jumlahnya. Dan ada satu nikmat yang kini kusadari, sebelumnya aku belum pernah menyadarinya, nikmat tuhan yang satu ini telah tuhan anugerahkan pada diriku selama 18 tahun lebih, sejak aku terlahir di alam yang fana ini. “BANGUN DARI TIDUR” sadarkah anda akan semua itu? Bukankah setiap pada saat anda mulai berbaring di atas tempat tidur itu, tak ada satu orang pun yang menjamin bahwa esok anda akan terbangun lagi?? Tapi apa yang terjadi, hingga saat sekarang ini anda dapat membaca tulisan saya? Masihkah esok akan demikian?? Kita tak perah tahu apa yang akan terjadi pada saat kita terlelap tidur, bisa saja pada saat kita terlelap tidur bencana alam terjadi di sekitar rumah kita, bisa saja ajal menjemput saat kita terlelap tidur, bisa saja kita terbangun di alam kubur, bisa saja kita terbangun saat malaikat akan memberikan soal – soal ujian dan pertanyaan tentang perbuatan selama di dunia ini?? Owh, sungguh mengerikan, tak dapat kubayangkan, dan sungguh tak dapat ku menggambarkannya dengan kata–kata lewat tulisan ini.
Aku tak pernah tahu, saberapa besar kesalahan, dosa, dan penyimpangan–penyimpangan yang kuperbuat. Selama ini aku sibuk dengan urusan dunia, sementara aku tak pernah benar – benar memikirkan urusan alam akhirku nanti. Ya tuhan, padahal yang akan dinilai bukanlah pangkat, jabatan, tingkat pendidikan, besar gaji, status sosial, anak siapa, keturunan dari golongan apa, dan lain sebagainya. Sama sekali tuhan tak akan menilai makhluknya (khususnya manusia) dari bagian tersebut, tapi bukankah yang dinilai itu adalah tingkat ketaqwaannya??. Kadang ada pula orang – orang yang sibuk merawat kecantikan diri, merawat ketampanannya, sementara yang berpenampilan kurang menarik ia sibuk menutup diri, dengan alasan minder, adakah ukuran si cantik dan si buruk rupa di hadapan tuhan? Adakah ukuran kaya dan miskin? Bukankah tidak sama sekali?? Secantik dan setampan apapun, ingatlah, waktu terus berputar, semua akan termakan oleh waktu. Kecantikan akan luntur seiring waktu yang terus berputar dan usia yang semakin senja. Muka mulai kriput mengkerut, rambut memutih, tulang – tulang rapuh, daya ingat berkurang, tubuh mulai membungkuk, ajalpunmenjemput….
Tak ada alasan minder karena penampilan, tak ada alasan menyerah karena miskin, tak ada alasan karena berbagai kekurangan yang ada, ingatlah saudara – saudaraku, di balik kekurangan pasti ada kelebihan, begitu pula sebaliknya.
Ngomong–ngomong, saya jadi teringat saat saya berkunjung ke SLBN di Kota tempat saya tinggal, berbagai keajaiban dan kekuasaan Allah Swt. Saya temukan di sana. Sekolah tersebut pendirinya adalah orang yang tuna netra, beliau menikahi seorang perempuan yang sama – sama tuna netra. Konon, anaknya normal semua. Ternyata bukan hanya mereka berdua yang tuna netra, masih ada yang lainnya juga. Meraka berjalan dengan kekuatan insting, tapi entahlah…. Saya pun tak mengerti, bagaimana mereka berjalan menuju ruangannya, duduk tepat di kursinya, mengetik sms, mengoperasikan komputer, dan lain sebagainya. Untuk menyadari kekuasaan Allah akan mereka semua, sekarang coba anda tutup mata anda dengan kain, atau lebih simpelnya pejamkan mata anda, dan pergilah kesuatu tempat yang sering anda kunjungi, atau coba anda pergi lah dari tulisan saya ini (dari tempat anda membaca). Bisa?? Cobalah !!! saya yakin, dengan cara seperti itu anda mungkin bisa mensyukuri anugerah dan nikmat yang anda peroleh dari mata itu. Betapa ngerinya jika kita tak mampu melihat lagi, keindahan yang biasa terlihat tak akan nampak lagi. Inilah bukti dunia ini benar – benar fana. Dan kini saatnya kita menyadari bahwasannya kita jarang sekali mensyukuri, menyadari, dan memanfaatkan anugerah yang Allah Swt. berikan kepada kita semua. Selamat bertafakur.
Lahir di Kuningan pada tanggal 11 Juni 1991. Alumni dari : SDN III Cihideung Hilir Cidahu Kuningan JABAR (1997-2003). SMPN 1 Cidahu Kuningan JABAR (2003-2006). SMAN 1 Ciawigebang Kuningan JABAR (2006-2009).